J e h a n n a N i c o l n
Ish... Je mendesis saat kepalanya berdenyut.
"Syukur deh, akhirnya lo bangun juga" seru anggota PMR itu.
"Lo istirahat aja dulu ya di UKS-- Kayaknya tubuh lo lagi kurang fit hari ini" saran anggota PMR itu.
Je diam
Kio diam
Anggota PMR pun diam
Sepi jadinya
Anggota PMR tadi kembali duduk di bangku yang dihadapannya ada meja. Dia tampak mencatat sesuatu.
Kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri je yang terbaring di matras UKS.
"Lo udah baikkan kan?" tanya anggota PMR tersebut memastikan. Je mengangguk.
"Baik ko"
"Oke. Berarti lo bisa nulis sendiri kan nama lo disini?" anggota PMR itu menyodorkan papan terbang yang di selipi dengan selembar kertas.
Daftar kunjungan UKS
Je membaca daftar tersebut. Je mengisi daftar formulir. Menulis nama, kelas, dan satu lagi alasan.
Senyum je mengembang saat sadar nama yang tertera di atas namanya itu adalah kikyo ryu. Bukan. Bukan karena namanya yang membuat senyum je mengembang. Tatapi karena alasan yang kio tulis di sana.
'Atit peyut'
Alay kan? Emang!!
Je menyerahkan kembali papan terbang tersebut beserta dengan bulpoint-nya.
Acara upacara selesai. Tapi je malah tidur nyaman di atas matras. Izinkan je tuk bolos pelajaran hari ini saja.
Anggota PMR itu nampak gelisah. Sepertinya dia ingin masuk kelas, tapi dia masih punya tanggung jawab di ruang UKS ini.
Menjaga je dan mengawasi kio yang berpura-pura sakit itu agar tidak berbuat yang macam-macam pada je.
Huft... Menghembuskan nafas pasrah. Dan mulai menelungkupkan wajahnya dalam lipatan tangannya.
"Kalo lo mau ke kelas, kelas aja. Ada gue disini yang jaga shila" orang itu menegakkan badannya. Menatap mata kio sampai ke dalam. Takut-takut mempunyai rencana di balik kebaikannya dan melakukan sesuatu yang macam-macam.
"Percaya deh sama gue, gue gak bakal ngelakuin apapun. Paling cuman jahil" resa-- selaku anggota PMR yang tadi menangani je saat je pingsan dan yang menjaga je saat je tidur saat ini. Resa membuka lebar-lebar matanya berharap agar kio takut dengan tatapan itu. Tapi tidak. Kio tidak takut. Dia malah berlagak tidak peduli.
"Becanda... Gue gak bakalan apa-apain je. Dia kan teman sekelas gue, jadi apa salahnya gue jagain dia di UKS sekarang" resa menatap kio beberapa detik. Kio pun sama untuk menyakinkan resa agar percaya pada kata-katanya.
"Lagian, nyaman juga di UKS udaranya sejuk walau bau obat, tapi gak papa lah... Gue bisa bolos jam pelajaran" walau ragu pada awalnya, tapi pada akhirnya resa mencoba percaya sama kio dan memberikannya tanggung jawab atas kesehatan je hari ini.
"Oke. Gue mau ke kelas... Lo gue kasih tanggung jawab. Jangan sampai orang itu lo apa-apain. Kalo sampai kenapa-napa, gue yang bakalan kena karena gue yang jaga UKS hari ini. Gue percayakan hari ini sama lo" resa membereskan berkas-berkas di mejanya dan memasukkannya ke dalam lemari yang di depannya tertera tulisan 'dokumen'.
Resa sudah meninggalkan ruangan UKS. Kini hanya tersisa kio dan je yang masih tertidur di atas matras.
Kio menutup pintu UKS dan kembali duduk di sofa. Lalu merogoh saku celananya. Di sana sudah ada satu bungkus rokok, lalu mengambil satu keping puntung rokok.
Dia menghidupkan korek gasnya dan mendekatkan ke ujung puntung rokok.
Rokok itu sudah di apit oleh ke dua bibir kio.
Je mecium bau asap rokok. Dia terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih sakit.
Uhuk uhuk
Je terbatuk karena menghirup asap rokok tersebut. Dia melirik kio sekilas.
Dia tidak menyangka, lelaki sepintar, setampan, seperfek dan segalanya yang menyangkut dengan kata 'se' seperti kio merokok?
Je mengernyit heran menatap kio.
"Kenapa lo ngerokok di sini?" tanya shila dengan nada sinis. Je berusaha untuk mendudukkan badannya perlahan, karena sakit di kepalanya belum hilang.
"Emang kenapa?" kio balik bertanya dengan wajah polos sambil terus menghisap puntung rokok itu.
"Kio! Sadar tempat ge lo kalo mau ngerokok! Ini tuh UKS! UKS!" amarah je menekankan setiap katanya "lo tau apa itu UKS?Unit Kesehatan Sekolah, gue kasih tau kalo lo gak tau. Tempat orang yang lagi sakit itu di sini. Tempat yang bersih dari kuman dan harusnya bebas asap rokok. Tapi lo malah sengaja ngerokok di UKS" je berkacak pinggang. Lalu bergerak turun dari matras dan menghampiri kio. Hidungnya dia tutup dengan jemari tangannya, membiarkan dia bernafas lewat mulut.
"Siniin rokok lo" je menyodorkan tangan kanannya, meminta agar kio memberikan rokok padanya.
"Lo mau ikut ngerokok juga?" tanyanya polos. Bagai bayi baru lahir. Kio mengambil satu puntung rokok dari bungkus rokok lalu menyodorkannya ke je.
Je melotot tajam melihat tingkah kio yang menurutnya polos. Memang untuk apa je tadi mengomelinnya untuk tidak merokok di UKS itu bertanda dia juga ingin merokok? Tidak.
Dia ingin membuang semua rokok yang ada di tangan kio. Je mengambil paksa bungkus rokok itu dari tangan kio.
"Hebat lo ya, lo mau ngerokok satu bungkus it..."
Ucapan kio terhenti saat dia melihat je melempar sebungkus rokoknya ke lantai dan menginjak-injakkan rokok itu. Matanya membulat sempurna.
"Jehan!" pekik kio sedikit menyentak.
"Lo tau gak sih, itu stok rokok terakhir gue hari ini" nadanya memelas.
"Sorry, gak tau gue kalo itu stok rokok terakhir lo" ujar je tanpa wajah berdosanya.
Kio mendesis pelan. Pasrah dengan keadaan.
Je masih menutup hidungnya dengan jemarinya, karena kio belum mematikan rokoknya yang sedang dia pegang di tangannya.
Je menyodorkan kembali tangan kanannya. Kio mengernyitkan keningnya.
"Lo kenapa dah dari tadi nyodorin tangan lo mulu? Pakek nutup hidung segala"
"Lo gak suka bau rokok?" tanya kio.
"Iya, gue gak suka!"
"Oh..." kio manggut-manggut, menganggukkan kepalanya kecil "Nanti gue matiin rokoknya, tapi kalo dah abis ya"
Gimana menurut kalian di part ke dua ini? Saya minta kritik dan saran ya... Tolong beri komentar yang membangun oke? Kalo ada yang mau baca cerita saya yang lain, klik di link-nya ya...
https://my.w.tt/UiNb/dvvfLnOm9H