Jumat, 17 November 2017

No bad boy

Bagian baru dari cerita 'no bad boy' nih... Kalo ada kesalahan kata atau yang lebih di sebut 'typo' maafkalah... 'Karena saya manusia bukan alien' dah langsung aja ke cerita

J e h a n n a N i c o l n

Perlahan-lahan je membuka matanya. Rasa pening di matanya masih terasa.

   Ish... Je mendesis saat kepalanya berdenyut.

"Syukur deh, akhirnya lo bangun juga" seru anggota PMR itu.

"Lo istirahat aja dulu ya di UKS-- Kayaknya tubuh lo lagi kurang fit hari ini" saran anggota PMR itu.

Je diam
Kio diam
Anggota PMR pun diam
Sepi jadinya

   Anggota PMR tadi kembali duduk di bangku yang dihadapannya ada meja. Dia tampak mencatat sesuatu.

   Kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri je yang terbaring di matras UKS.

"Lo udah baikkan kan?" tanya anggota PMR tersebut memastikan. Je mengangguk.

"Baik ko"

"Oke. Berarti lo bisa nulis sendiri kan nama lo disini?" anggota PMR itu menyodorkan papan terbang yang di selipi dengan selembar kertas.


Daftar kunjungan UKS

   Je membaca daftar tersebut. Je mengisi daftar formulir. Menulis nama, kelas, dan satu lagi alasan.

   Senyum je mengembang saat sadar nama yang tertera di atas namanya itu adalah kikyo ryu. Bukan. Bukan karena namanya yang membuat senyum je mengembang. Tatapi karena alasan yang kio tulis di sana.

'Atit peyut'

Alay kan? Emang!!

   Je menyerahkan kembali papan terbang tersebut beserta dengan bulpoint-nya.

   Acara upacara selesai. Tapi je malah tidur nyaman di atas matras. Izinkan je tuk bolos pelajaran hari ini saja.

   Anggota PMR itu nampak gelisah. Sepertinya dia ingin masuk kelas, tapi dia masih punya tanggung jawab di ruang UKS ini.

   Menjaga je dan mengawasi kio yang berpura-pura sakit itu agar tidak berbuat yang macam-macam pada je.

   Huft... Menghembuskan nafas pasrah. Dan mulai menelungkupkan wajahnya dalam lipatan tangannya.

"Kalo lo mau ke kelas, kelas aja. Ada gue disini yang jaga shila" orang itu menegakkan badannya. Menatap mata kio sampai ke dalam. Takut-takut mempunyai rencana di balik kebaikannya dan melakukan sesuatu yang macam-macam.

"Percaya deh sama gue, gue gak bakal ngelakuin apapun. Paling cuman jahil" resa-- selaku anggota PMR yang tadi menangani je saat je pingsan dan yang menjaga je saat je tidur saat ini. Resa membuka lebar-lebar matanya berharap agar kio takut dengan tatapan itu. Tapi tidak. Kio tidak takut. Dia malah berlagak tidak peduli.

"Becanda... Gue gak bakalan apa-apain je. Dia kan teman sekelas gue, jadi apa salahnya gue jagain dia di UKS sekarang" resa menatap kio beberapa detik. Kio pun sama untuk menyakinkan resa agar percaya pada kata-katanya.

"Lagian, nyaman juga di UKS udaranya sejuk walau bau obat, tapi gak papa lah... Gue bisa bolos jam pelajaran" walau ragu pada awalnya, tapi pada akhirnya resa mencoba percaya sama kio dan memberikannya tanggung jawab atas kesehatan je hari ini.

"Oke. Gue mau ke kelas... Lo gue kasih tanggung jawab. Jangan sampai orang itu lo apa-apain. Kalo sampai kenapa-napa, gue yang bakalan kena karena gue yang jaga UKS hari ini. Gue percayakan hari ini sama lo" resa membereskan berkas-berkas di mejanya dan memasukkannya ke dalam lemari yang di depannya tertera tulisan 'dokumen'.

   Resa sudah meninggalkan ruangan UKS. Kini hanya tersisa kio dan je yang masih tertidur di atas matras.

   Kio menutup pintu UKS dan kembali duduk di sofa. Lalu merogoh saku celananya. Di sana sudah ada satu bungkus rokok, lalu mengambil satu keping puntung rokok.

   Dia menghidupkan korek gasnya dan mendekatkan ke ujung puntung rokok.

   Rokok itu sudah di apit oleh ke dua bibir kio.

   Je mecium bau asap rokok. Dia terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih sakit.

Uhuk uhuk

   Je terbatuk karena menghirup asap rokok tersebut. Dia melirik kio sekilas.

   Dia tidak menyangka, lelaki sepintar, setampan, seperfek dan segalanya yang menyangkut dengan kata 'se' seperti kio merokok?

Je mengernyit heran menatap kio.

"Kenapa lo ngerokok di sini?" tanya shila dengan nada sinis. Je berusaha untuk mendudukkan badannya perlahan, karena sakit di kepalanya belum hilang.

"Emang kenapa?" kio balik bertanya dengan wajah polos sambil terus menghisap puntung rokok itu.

"Kio! Sadar tempat ge lo kalo mau ngerokok! Ini tuh UKS! UKS!" amarah je menekankan setiap katanya "lo tau apa itu UKS?Unit Kesehatan Sekolah, gue kasih tau kalo lo gak tau. Tempat orang yang lagi sakit itu di sini. Tempat yang bersih dari kuman dan harusnya bebas asap rokok. Tapi lo malah sengaja ngerokok di UKS" je berkacak pinggang. Lalu bergerak turun dari matras dan menghampiri kio. Hidungnya dia tutup dengan jemari tangannya, membiarkan dia bernafas lewat mulut.

"Siniin rokok lo" je menyodorkan tangan kanannya, meminta agar kio memberikan rokok padanya.

"Lo mau ikut ngerokok juga?" tanyanya polos. Bagai bayi baru lahir. Kio mengambil satu puntung rokok dari bungkus rokok lalu menyodorkannya ke  je.

   Je melotot tajam melihat tingkah kio yang menurutnya polos. Memang untuk apa je tadi mengomelinnya untuk tidak merokok di UKS itu bertanda dia juga ingin merokok? Tidak.

   Dia ingin membuang semua rokok yang ada di tangan kio. Je mengambil paksa bungkus rokok itu dari tangan kio.

"Hebat lo ya, lo mau ngerokok satu bungkus it..."

   Ucapan kio terhenti saat dia melihat je melempar sebungkus rokoknya ke lantai dan menginjak-injakkan rokok itu. Matanya membulat sempurna.

"Jehan!" pekik kio sedikit menyentak.

"Lo tau gak sih, itu stok rokok terakhir gue hari ini" nadanya memelas.

"Sorry, gak tau gue kalo itu stok rokok terakhir lo" ujar je tanpa wajah berdosanya.

   Kio mendesis pelan. Pasrah dengan keadaan.

   Je masih menutup hidungnya dengan jemarinya, karena kio belum mematikan rokoknya yang sedang dia pegang di tangannya.

    Je menyodorkan kembali tangan kanannya. Kio mengernyitkan keningnya.

"Lo kenapa dah dari tadi nyodorin tangan lo mulu? Pakek nutup hidung segala"

"Lo gak suka bau rokok?" tanya kio.

"Iya, gue gak suka!"


"Oh..." kio manggut-manggut, menganggukkan kepalanya kecil "Nanti gue matiin rokoknya, tapi kalo dah abis ya"

Gimana menurut kalian di part ke dua ini? Saya minta kritik dan saran ya... Tolong beri komentar yang membangun oke? Kalo ada yang mau baca cerita saya yang lain, klik di link-nya ya...

https://my.w.tt/UiNb/dvvfLnOm9H

Minggu, 05 November 2017

No Bad Boy

Sebelum ke cerita, gue sebagai penulis pengen curcol dulu ya... Jadi gini, rencanannya gue pengen bikin novel... Tapi gak tau bakalan berhasil atau tidak--tapi ya, semoga saja berhasil. Karena gue cuman bisa bikin cerita awal tanpa bisa mengakhiri cerita. Dah, daripada banyak omong, mending langsung ke cerita...

Hari ini shila telat masuk sekolah. Dia sudah berada di depan gerbang sekolah yang sudah tetutup.

Sial! Harusnya tadi malam gue gak usah ngebut baca novel! Gerutu shila dalam hati.

Di balik pagar sekolah yang tetutup itu muncullah bu iss yang sudah pastinya hari ini berjaga sebagai guru piket.

Dari arah lain, kio dengan mengendarai motornya baru saja datang.

"Sudah jam berapa ini? Kenapa kalian baru datang?" bentak bu iis. Shila merasakan detak jantungnya hampir keluar dari tempatnya. Ini untuk pertama kalinya dia telat masuk sekolah.

"Kalian berangkat dari rumah jam berapa hah? Ini sudah jam tujuh kurang dan kalian baru sampai?!!"

Shila mengigit bibir bawahnya mendengar omelan bu iis.

Kio mematikan mesin motornya sambil terus mendengar omelan bu iis. Dia terlihat tenang-tenang saja. Berbeda jauh dengan tiva yang sudah banyak mengeluarkan keringat karena sebelumnya dia berlari dari pemberhentian angkot ke depan gerbang sekolah. Maklum... Shila sekolah di sekolahan yang tempatnya berada di tengah-tengah perkampungan. Jadi agak susah untuk di lalui kendaraan ber-roda empat, misalnya seperti mobil angkot.

Bu iis mulai capek mengomeli kedua insan yang telat hari ini.

"Hari ini hukuman kalian akan ibu ringankan karena ini hari senin. Dan ibu akan hapalkan wajah kalian. Kalau sampai kalian telat lagi, maka ibu akan memberi sp 1" jelas bu iis sambil membuka gerbang sekolah.

What? Sp 1? Shila baca itu... Dia baca di buku peraturan sekolah. Apabila sudah mencapai lima puluh point negatif, maka terkena sp satu. Itu artinya shila sudah mempunyai  point negatif sejumlah lima puluh.

"Tulis nama dan kelas kalian terlebih dahulu sebelum masuk barisan upacara" perintah bu iis tak terbantahkan.

Kio memakirkan motornya dulu sebelum mencatat namanya. Shila selesai mencatat nama dan kelasnya. Dan kio sudah memakirkan motornya lalu melakukan seperti yang shila lakukan, mencatat nama dan kelas.

Bu iis membaca nama dan kelas yang tertera di kertas itu, lalu mengangguk kecil. Dan ternyata shila dan kio itu sekelas.

"Sudah. Cepat kalian ke kelas dan masuk barisan!"

Shila berlari meninggalkan halaman depan sekolah. Berlari menyusuri koridor.

Karena koridor kelasnya melewati lapangan upacara, shila menjadi pusat perhatian. Dan shila tak suka itu.

Menaruh tasnya di bangku lalu berlari menuju lapangan. Peserta upacara mulai hormat kepada bendera merah putih.

Shila masuk berisan, dia mengikuti jalannya upacara, dia pun ikut hormat. Shila baru sadar kalau dia belum memakai topinya.

Duh, kenapa sih penyakit lupanya harus kambuh di saat yang tidak tepat??!

Shila meninggalkan topinya di dalam tas. Dia melihat ke belakang, berharap tidak ada guru piket lagi yang menjaga di belakang barisan saat upacara berlangsung.

Tapi nasib tak sesuai yang shila inginkan.

Bu indi menepuk bahu shila agar shila manengok ke arahnya.

Shila pun berbalik

"Kenapa gak pake topi? Memang kemana topimu?"

Shila tersenyum canggung.

"Ada bu, tapi di tas..."

"Balik badan dan ambil topinya sekarang!" perintahnya. Tanpa menunggu lama pun shila berbalik lalu berlari menyusuri jalan koridor lagi dan menjadi pusat perhatian lagi.

Brukk...

"Aduh..." spontan shila mengaduh kesakitan karena bokongnya berhasil mendarat di lantai koridor yang dingin.

Shila berdiri dari insiden terjatuhnya tadi. Lalu melirik ke arah kio yang hanya diam tak bergeming. Apa dia tidak berniat menolong shila untuk berdiri? Ah, orang kayak dia bisa menolong shila? Jangan harap!

Shila melanjutkan berlari ke arah kelasnya. Membuka resleting tas dan mengambil topinya.

Dan... Kenapa topinya tidak ada di tas??

Biasanya shila selalu menaruh topinya di tas. Jarang sekali ia mengeluarkan topi dari tasnya. Dan biasanya topi itu akan di keluarkan jika di butuhkan seperti upacara misalnya dan di saat ingin di cuci dia mengeluarkan topinya.

Shila mencoba mengingat kembali kejadian sebelum-sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan keringat yang menetes di dahinya.

Ah, shila ingat! Sewaktu tadi malam. selesai dia belajar, mengeluarkan semua buku yang saat hari itu di pelajari hendak menggantikan dengan buku pelajaran hari ini. Mungkin saja, topinya itu terbawa oleh buku yang kemarin dia keluarkan.

Ah... Ceroboh lo shil! Dasar ceroboh! Ceroboh! Ceroboh!

Dengan langkah gontai, shila keluar kelas. Bahunya merosot dan kepalanya miring. Persis seperti di film train to busan.

Shila melewati ruang UKS. Kio memakaikan topi di kepala shila. Shila sempat tertegun.

"Lo pake aja dulu topi gue, gue mau di UKS aja, pura-pura sakit" senyum shila mengembang.
Tidak apalah membantu kio berbohong. Simbiosis mutualisme kio dapat beristirahat di UKS sepuasnya, dan shila pun selamat dari hukuman yang di berikan oleh bu indi.

Shila kembali lagi masuk ke dalam barisan. Dia merapikan bajunya yang berantakan dan roknya yang kotor.

"PEMBUKAAN... Bahwa, sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa..."

Petugas upacara mulai membacakan teks undang-undang dasar di tengah lapangan.

Shila merasakan lemas. Dia pusing. Karena hari ini telat, jadi tadi shila tidak sempat sarapan. Keringat di dahinya masih terus menetes.

"Dan oleh sebab itu..." shila tetap mencoba mempertahankan membuka matanya agar tidak pingsan di tengah lapangan

Brukk...

Tubuh shila ambruk. Shila sudah tidak tahan lagi untuk tetap membuka matanya. Dia kelelahan hari ini. Sangat lelah!

Dia tidak biasa berlari. Hingga pada hari ini dia terpaksa, mau tidak mau berlari pagi karena keterlambatannya dan kecerobohannya.

Tim anggota PMR yang sudah stay di belakang barisan, mengangkut tubuh shila dengan tandu darurat.

Di bopongnya tubuh shila menuju UKS. Disana sudah ada beberapa anggota PMR yang berjaga di ruang UKS.

Shila pun mulai di tangani oleh anggota PMR yang berjaga di sana. Kio yang terduduk di sofa yang berada di dalam ruang UKS, tampak memperhatikan anggota PMR yang sedang melakukan pertolongan pertama pada orang pingsan.

Sepatu dan kaos kaki shila di buka, ikat pinggang di longgarkan, topi di lepas... Dan yang terakhir... Melepas dasi dan satu kancing teratas. Kio masih saja memperhatikan shila yang di tangani anggota PMR tersebut, bahkan saat ini dia melebarkan matanya.

"Teh... Bangun"

Anggota PMR tersebut menepuk-nepuk pipi shila sesekali diselingi mendekatkan wewangian ke hidungnya.

Anggota PMR itu melirik ke arah kio.

"Mata lo ya, nakal!" kio mengerjap. Dia berpaling. Berpura-pura tidak melihat apa-apa.

"Lebih baik seperti itu... Berpura-pura tidak melihat apa-apa dan terus melihat ke arah lain" kio bersiul di susul tangannya di renggangkan dan di letakkan di kepala sofa. Anggota PMR itu tersenyum dan menggeleng melihat tingkah konyol kio.

Siapa yang tidak kenal kio? Sudah pasti semuanya kenal. Termasuk anggota PMR tadi... Dia kenal kikyo ryu. Seorang most wanted sekolah. Pemuda berprestasi dalam olimpiade bahasa inggris serta merakyat. Siapapun bisa menjadi temannya.

Oke, segitu aja dulu ya kawan.... Tunggu cerita selanjutnya... Dan salam sayang dariku...

Senin, 09 Oktober 2017

I love you

DITO!! SEPATU GUE!

DITO JANGAN LEMPAR SEPATU GUE! ITU MAHAL WOY!!

Beberapa suara pekikkan di ruang kelas ips 2, kelas paling ujung, paling pojok dan paling dekat dengan makam. Tapi beruntungnya, kelas tersebut tidak bersebelahan langsung dengan makam karena kini sebuah tembok telah mempagari antara sekolah dan makam.

Nama yang di sebutkan dalam suara pekikkan tersebut adalah Dito Marselino, biasa di panggil Dito. Dia pinter, doyan tidur pas jam pelajaran, dan petakilan. Orangnya gak bisa diem. Iya, gak bisa diem. Dia itu pecicilan plus jahil. Dan tiva adalah salah satu sahabt ceweknya yang dekat dengan dito. Pernah, suatu hari, dito menemukan landak di pohon, lalu dia ambil dan dia bawa ke kelas. Di sodorkan ke beberapa anak kelas yang menurutnya asik untuk di ajak bermain-main dengan si landak.

"Dito!! Ih! Singkirin nggak landak lo!! Jangan ganggu gue yang lagi nonton korea dong"

"Si udin pengen ikut nonton korea anti..." Tiva hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang satu itu jahil, kelewat jahil malah.

"Napa dito... Singkirin landak lo" anti mulai memasang wajah mememelas. Landak--yang dito beri nama udin, asik nangkring di keyboard laptop milik anti.

Yakkss... Saat itu guru sedang tidak ada di kelas di karenakan--tak tahulah alasannya, tiva tak peduli dan tak  ingin cari tahu.

Kelas paling pojok yang penuh dengan story menarik--menurut tiva.

Apanya yang menarik?? Orangnya.

Kenapa?? Percayalah segalnya tak ada yang sempurna di dunia ini.

Tiva terkejut atas segala sesuatunya di dalam kelas itu.

Yang tiva pikir dia itu anak polos, nyatanya tidak. Isi otaknya itu lho... Mesum! Dia menghasut anak kelas buat baca-baca cerita panas. Yaps! Yang tiva ceritakan itu perempuan bukan laki-laki.

Kalau soal laki-laki kelas pojok ini, mulutnya itu pada lemes terkecuali dito. Dia mah orangnya gak pedulian tapi peduli. Duh, gimana sih ini peduli tapi gak pedulian?? Bodo lah, intinya mah gitu.

Mari author kenalkan anak-anak kelas pojok ini.

Saat ini, kelas sedang tak ada guru.

Orang yang lagi teriak-teriak mengeluarkan suaranya, bernyanyi bahasa inggris itu, marsha. Iya, marsha and the bear. Bisa juga di panggil qolby. Setau author, qolby itu artinya hati kan?? #minta di tabok.

Nah, scroll... Kerumunan orang-orang yang lagi ngobrol itu ada rus, rena, alika, arin dan karin.

Mau tau apa yang mereka omongin?? Oke, skip saja apa yang mereka omongin karena author gak mau cerita. So simply, yang mereka omongin itu jorok-jorok dan gak berbobot.

Kalian berpikir gak sih, kalau ternyata ada nama yang mirip? Iya, itu arin dan karin? Kalau di kelas panggil nama 'rin' dua-duanya nengok. Lucu gak sih?? Nggak. Oke, author garing emang!

Selanjutnya, dua orang yang duduk di tempat paling depan. Mereka mah orangnya adem. Dari tadi diem di tempatnya sambil ngobrol berdua.

Salah satu dari dua orang itu adalah ustadzah kelas. Dia menjabat sebagai seksi kebersihan di kelas. Setiap pagi dia tidak lupa mengingatkan anak-anak kelas buat piket.

Mereka berdua anak-anak rajin. Kelewat rajin malah. Nyatanya, jawaban dari sebuah pertanyaan itu pendek, tapi mereka malah menjawabnya dengan panjang lebar. Sampai berlembar-lembar.

Kerumunan berikutnya, di pojok kelas. Mereka adalah cabe kelas. Walau begitu, mereka memiliki kehidupan keluarga yang kelam. Seperti ke dua orang tuanya cerai, penyimpangan seksual, sampai pemfitnahan yang mereka alami di kehidupan nyatanya.

Diantara mereka-mereka yang cabe, ada yang lebih cabe lagi. Mulutnya seperti harimau. Dia lemes bangat, dia ngehasut orang buat terbawa emosi.

Dia ashari. Dia mulutnya gak bisa di kontrol. Tajam. Setajam silet. Eh gak ding, tajamnya ngalahin tajamnya silet dan gak akan berkarat.

Berikutnya kerumunan cowok yang baris depan. Mereka itu anak baik-baik. Tapi, seperti yang sudaj author bilang, di dunia ini gak ada yang sempurna. Mereka baik, pinter, tapi mulutnya itu lho... Lemes. Cerewet, dan sukanya ngegosip. Di samping kerumunan cowok, ada si anti--si wakil ketua osis beserta temannya sedang asik nonton film korea. Sebenarnya, hida itu gak suka film korea dia lebih suka film anime. Tapi karena anti cuman punya film korea, hida terpaksa, mau bagaimana lagi? Daripada gabut karena gak ada guru.

Dan yang terakhir, kerumunan cowok baris belakang. Ini adalah kelompok cowok bandel, jahil, gak bisa diem and konyol.

Dan termasuk dito. Dia adalah cowok tengil, konyol, dan urakan. Walaupun demikian, dito itu pinter... Dia sering gak remed sementara tiva?? Jangan tanyakan hal tersebut, karena tiva remed di setiap bidang pelajarang. Kecuali pelajaran geografi. Jangan tanyakan pula kenapa hanya pelajaran geografi tiva tidak remed, tiva pun tidak tahu.

Sepulang sekolah, dito mengajak tiva ke suatu tempat antah berantah.

Motor dito berhenti tepat di depan gapura besar bertuliskan 'TPU (Tempat Pemakaman Umum) singasari.

Dahi tiva berkerut saat menyadri bahwa dirinya di bawa ke makam oleh dito.

"Dit, kita ngapain ke sini?"

"Gue kangen sama ibu gue, dan gue mau ada lo di saat gue nemuin ibu gue nanti" yaps! Kata-katanya ambigu. Ada tiva saat ketemu ibunya? Maksudnya mau kenalin tiva sama ibunya? Buat apa? Biar tiva kenal sama calon mertuanya? Halah, tinggi sekali imajinasimu nak...

Di depan gundukan tanah dan nisan, dito berjongkok di samping makam ibunya.

"Mah, aku mau kenalin seseorang sama mamah..." Lirihnya "dia namanya tiva. Perempuan cantik tapi arogan" senyum tiva kecut. Setelah di puji, malah di ledek. Dia ikut berjongkok. Prihatin juga sama dito.

"Dan aku mau ngomong sesuatu yang sangat penting sama tiva di hadapan mamah..." Dito menghadap tiva. Tersenyum ke arahnya dan meraih jemarinya.

"I love you" lha... Tiva sempat terbengong. Heran juga kenapa nyatain cintanya harus di kuburan kayak gini? Iya, tiva tau dito pengen nyatain cintanya di hadapan mamahnya... Tapi gak gini juga kali.

No bad boy

Bagian baru dari cerita 'no bad boy' nih... Kalo ada kesalahan kata atau yang lebih di sebut 'typo' maafkalah... 'Karena...