Sebelum ke cerita, gue sebagai penulis pengen curcol dulu ya... Jadi gini, rencanannya gue pengen bikin novel... Tapi gak tau bakalan berhasil atau tidak--tapi ya, semoga saja berhasil. Karena gue cuman bisa bikin cerita awal tanpa bisa mengakhiri cerita. Dah, daripada banyak omong, mending langsung ke cerita...
Hari ini shila telat masuk sekolah. Dia sudah berada di depan gerbang sekolah yang sudah tetutup.
Sial! Harusnya tadi malam gue gak usah ngebut baca novel! Gerutu shila dalam hati.
Di balik pagar sekolah yang tetutup itu muncullah bu iss yang sudah pastinya hari ini berjaga sebagai guru piket.
Dari arah lain, kio dengan mengendarai motornya baru saja datang.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa kalian baru datang?" bentak bu iis. Shila merasakan detak jantungnya hampir keluar dari tempatnya. Ini untuk pertama kalinya dia telat masuk sekolah.
"Kalian berangkat dari rumah jam berapa hah? Ini sudah jam tujuh kurang dan kalian baru sampai?!!"
Shila mengigit bibir bawahnya mendengar omelan bu iis.
Kio mematikan mesin motornya sambil terus mendengar omelan bu iis. Dia terlihat tenang-tenang saja. Berbeda jauh dengan tiva yang sudah banyak mengeluarkan keringat karena sebelumnya dia berlari dari pemberhentian angkot ke depan gerbang sekolah. Maklum... Shila sekolah di sekolahan yang tempatnya berada di tengah-tengah perkampungan. Jadi agak susah untuk di lalui kendaraan ber-roda empat, misalnya seperti mobil angkot.
Bu iis mulai capek mengomeli kedua insan yang telat hari ini.
"Hari ini hukuman kalian akan ibu ringankan karena ini hari senin. Dan ibu akan hapalkan wajah kalian. Kalau sampai kalian telat lagi, maka ibu akan memberi sp 1" jelas bu iis sambil membuka gerbang sekolah.
What? Sp 1? Shila baca itu... Dia baca di buku peraturan sekolah. Apabila sudah mencapai lima puluh point negatif, maka terkena sp satu. Itu artinya shila sudah mempunyai point negatif sejumlah lima puluh.
"Tulis nama dan kelas kalian terlebih dahulu sebelum masuk barisan upacara" perintah bu iis tak terbantahkan.
Kio memakirkan motornya dulu sebelum mencatat namanya. Shila selesai mencatat nama dan kelasnya. Dan kio sudah memakirkan motornya lalu melakukan seperti yang shila lakukan, mencatat nama dan kelas.
Bu iis membaca nama dan kelas yang tertera di kertas itu, lalu mengangguk kecil. Dan ternyata shila dan kio itu sekelas.
"Sudah. Cepat kalian ke kelas dan masuk barisan!"
Shila berlari meninggalkan halaman depan sekolah. Berlari menyusuri koridor.
Karena koridor kelasnya melewati lapangan upacara, shila menjadi pusat perhatian. Dan shila tak suka itu.
Menaruh tasnya di bangku lalu berlari menuju lapangan. Peserta upacara mulai hormat kepada bendera merah putih.
Shila masuk berisan, dia mengikuti jalannya upacara, dia pun ikut hormat. Shila baru sadar kalau dia belum memakai topinya.
Duh, kenapa sih penyakit lupanya harus kambuh di saat yang tidak tepat??!
Shila meninggalkan topinya di dalam tas. Dia melihat ke belakang, berharap tidak ada guru piket lagi yang menjaga di belakang barisan saat upacara berlangsung.
Tapi nasib tak sesuai yang shila inginkan.
Bu indi menepuk bahu shila agar shila manengok ke arahnya.
Shila pun berbalik
"Kenapa gak pake topi? Memang kemana topimu?"
Shila tersenyum canggung.
"Ada bu, tapi di tas..."
"Balik badan dan ambil topinya sekarang!" perintahnya. Tanpa menunggu lama pun shila berbalik lalu berlari menyusuri jalan koridor lagi dan menjadi pusat perhatian lagi.
Brukk...
"Aduh..." spontan shila mengaduh kesakitan karena bokongnya berhasil mendarat di lantai koridor yang dingin.
Shila berdiri dari insiden terjatuhnya tadi. Lalu melirik ke arah kio yang hanya diam tak bergeming. Apa dia tidak berniat menolong shila untuk berdiri? Ah, orang kayak dia bisa menolong shila? Jangan harap!
Shila melanjutkan berlari ke arah kelasnya. Membuka resleting tas dan mengambil topinya.
Dan... Kenapa topinya tidak ada di tas??
Biasanya shila selalu menaruh topinya di tas. Jarang sekali ia mengeluarkan topi dari tasnya. Dan biasanya topi itu akan di keluarkan jika di butuhkan seperti upacara misalnya dan di saat ingin di cuci dia mengeluarkan topinya.
Shila mencoba mengingat kembali kejadian sebelum-sebelumnya.
Wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan keringat yang menetes di dahinya.
Ah, shila ingat! Sewaktu tadi malam. selesai dia belajar, mengeluarkan semua buku yang saat hari itu di pelajari hendak menggantikan dengan buku pelajaran hari ini. Mungkin saja, topinya itu terbawa oleh buku yang kemarin dia keluarkan.
Ah... Ceroboh lo shil! Dasar ceroboh! Ceroboh! Ceroboh!
Dengan langkah gontai, shila keluar kelas. Bahunya merosot dan kepalanya miring. Persis seperti di film train to busan.
Shila melewati ruang UKS. Kio memakaikan topi di kepala shila. Shila sempat tertegun.
"Lo pake aja dulu topi gue, gue mau di UKS aja, pura-pura sakit" senyum shila mengembang.
Tidak apalah membantu kio berbohong. Simbiosis mutualisme kio dapat beristirahat di UKS sepuasnya, dan shila pun selamat dari hukuman yang di berikan oleh bu indi.
Shila kembali lagi masuk ke dalam barisan. Dia merapikan bajunya yang berantakan dan roknya yang kotor.
"PEMBUKAAN... Bahwa, sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa..."
Petugas upacara mulai membacakan teks undang-undang dasar di tengah lapangan.
Shila merasakan lemas. Dia pusing. Karena hari ini telat, jadi tadi shila tidak sempat sarapan. Keringat di dahinya masih terus menetes.
"Dan oleh sebab itu..." shila tetap mencoba mempertahankan membuka matanya agar tidak pingsan di tengah lapangan
Brukk...
Tubuh shila ambruk. Shila sudah tidak tahan lagi untuk tetap membuka matanya. Dia kelelahan hari ini. Sangat lelah!
Dia tidak biasa berlari. Hingga pada hari ini dia terpaksa, mau tidak mau berlari pagi karena keterlambatannya dan kecerobohannya.
Tim anggota PMR yang sudah stay di belakang barisan, mengangkut tubuh shila dengan tandu darurat.
Di bopongnya tubuh shila menuju UKS. Disana sudah ada beberapa anggota PMR yang berjaga di ruang UKS.
Shila pun mulai di tangani oleh anggota PMR yang berjaga di sana. Kio yang terduduk di sofa yang berada di dalam ruang UKS, tampak memperhatikan anggota PMR yang sedang melakukan pertolongan pertama pada orang pingsan.
Sepatu dan kaos kaki shila di buka, ikat pinggang di longgarkan, topi di lepas... Dan yang terakhir... Melepas dasi dan satu kancing teratas. Kio masih saja memperhatikan shila yang di tangani anggota PMR tersebut, bahkan saat ini dia melebarkan matanya.
"Teh... Bangun"
Anggota PMR tersebut menepuk-nepuk pipi shila sesekali diselingi mendekatkan wewangian ke hidungnya.
Anggota PMR itu melirik ke arah kio.
"Mata lo ya, nakal!" kio mengerjap. Dia berpaling. Berpura-pura tidak melihat apa-apa.
"Lebih baik seperti itu... Berpura-pura tidak melihat apa-apa dan terus melihat ke arah lain" kio bersiul di susul tangannya di renggangkan dan di letakkan di kepala sofa. Anggota PMR itu tersenyum dan menggeleng melihat tingkah konyol kio.
Siapa yang tidak kenal kio? Sudah pasti semuanya kenal. Termasuk anggota PMR tadi... Dia kenal kikyo ryu. Seorang most wanted sekolah. Pemuda berprestasi dalam olimpiade bahasa inggris serta merakyat. Siapapun bisa menjadi temannya.
Oke, segitu aja dulu ya kawan.... Tunggu cerita selanjutnya... Dan salam sayang dariku...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
No bad boy
Bagian baru dari cerita 'no bad boy' nih... Kalo ada kesalahan kata atau yang lebih di sebut 'typo' maafkalah... 'Karena...
-
DITO!! SEPATU GUE! DITO JANGAN LEMPAR SEPATU GUE! ITU MAHAL WOY!! Beberapa suara pekikkan di ruang kelas ips 2, kelas paling ujung, pali...
-
Bagian baru dari cerita 'no bad boy' nih... Kalo ada kesalahan kata atau yang lebih di sebut 'typo' maafkalah... 'Karena...
-
Sebelum ke cerita, gue sebagai penulis pengen curcol dulu ya... Jadi gini, rencanannya gue pengen bikin novel... Tapi gak tau bakalan berhas...
Lanjut thor. Gw suka ceritanya sm kek kehidupan gw wkwk😂
BalasHapusoke
Hapus